Buah dada putihitu nampak padat berisi dan kencang dgn kedua puting mungilnya yg segar kemerahan menonjol kedepan.

Apalagi ac ruangan yg agak dingin, membuat puting buah dada Patricia jadi makin perky danmenonjol.

Baru kemudian disadarinya bahwa gaun itu bagian pinggangnya cukupketat.

Sehingga tak mungkin ia mengangkatnya terussampai ke perutnya. Tapi ia terlanjur memamerkan pahanya yg putih memekmulus serta celanadalem warna coklat mudanya di depan dokter Warsitho.

Karena kini bagian atastubuh Patricia telanjang tanpa ada penutup sehelai benang pun!

Sehingga ia bisa melihat jelas buahdada ranum nan indah milik perempuan muda yg menggairahkan terutama bagi pria seumur sepertidirinya itu.

Untuk itu iaberkata dgn sopan, “Maaf dik, bajunya tolong dibuka sebentar ya.”“Wah, kalau begini saja apa nggak bisa, dok?

”“Takutnya kurang jelas, tapi okay, saya coba dulu ya.”“Waduh, maaf, mungkin baju kamu ini terlalu tebal, jadi saya nggak bisa mendengar.”Tiba-tiba Patricia menjadi kelihatan gelisah.“Waduh gimana ya…”“Cuman sebentar aja kok,” kata Dokter Warsitho dgn senyum pengertian seolah ia maklum akankeresahan perempuan ini.

Sejak tadi ia sudah agak-agak mupeng dgn kecantikan dan ke-sexy-an perempuan ini.

Apalagisekarang disuguhi pemandanganindah seperti itu dalem jarak begitu dekat!

Apalagi ia sadarkalau Patriciaitu adalah perempuan muda yg luar biasa cakepnya dan attractive pula.

Di dalem ruangan itu, seperti biasa dokter Warsitho akan memeriksa dgn alatnya.

Setelahmendengar keluhan Patricia, ia akan memeriksanya di ruang periksa..