Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari tadi. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Tadi di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. ” jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.“Nanti ke rumah yaa!

Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. ” Bu Tadi menjerit kaget.“Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu tadi. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang. Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku.

Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Tapi karena menyetubuhi Bu Tadi itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Tadi yang cantik dan bahenol itu. ssshh..” terdengar suara Pak Tadi tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Tadi penasaran.“Emangnya kenapa siih.” Bu tadi memandangku penuh tanda tanya.“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. tapi janji tidak marah lho yaa.”“Bu Tadi terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu tadi. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan.

Nampaknya Pak Tadi sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Tadi. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Tadi. Bu Tadi kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Tadi sudah bosan denganku.

Aku sengaja nggak ikut dan hanya Nia saja yang ikut.

Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur.

Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Tadi. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Tadi. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. kalau itu sih iiiya Dik Budi” jawab Bu Tadi agak kikuk. Bu Tadi sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa.

Sore itu, mereka sepakat Bu Tadi akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Tadi sudah beberapa hari tidak pulang. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Tadi. ngomong-ngomong Bu Tadi sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa”, kataku hati-hati.“Ya, itulah Dik Budi. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Tadi.“Tapi anu tho bu… Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Tadi yang keenakan. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya.

Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Setelah itu, Bu Tadi mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya.