Minat tersebut rupanya terus bertahan sampai saat ini, walaupun saya sudah berkeluarga.

Saat remaja, saya ingat bahwa ketika saya bermasturbasi, saya lebih suka membayangkan tante-tante tetangga rumah, teman-teman ibu saya, ibu guru, maupun wanita-wanita lain yang masih terbilang ada hubungan keluarga.

Boleh dikata, saya sangat jarang menjadikan cewek-cewek sebaya saya sebagai obyek fantasi ketika bermasturbasi.

Saat baru menikah, kami tinggal bersama ibu mertua saya ini.

Karena 3 orang kakak isteri saya yang telah menikah telah memiliki rumah sendiri-sendiri, sedangkan 2 orang adik isteri saya sedang kuliah di Bandung dan Yogyakarta.

Bahkan pernah sekali waktu saya beruntung dapat melihat payudara ibu mertua saya tersebut dalam keadaan telanjang ketika ia membuka lilitan handuknya hendak berganti baju. Pernah juga saya melihat puting payudaranya menyembul keluar daster secara tidak sengaja ketika beliau nonton TV sambil tidur-tiduran di sofa.

Pengalaman-pengalaman baru seperti itulah yang semakin memperkuat minat seksualku pada beliau.

Begitu besarnya rasa tertarik saya pada beliau, sehingga pernah terlintas pikiran untuk kawin dengan beliau entah bagaimana caranya.

Tetapi pikiran tersebut tidak saya kembangkan lebih lanjut karena saat itu beliau sudah menopause, sedangkan saya masih memiliki keinginan untuk memiliki anak.

Karena terbatasnya tempat, kami hanya mendapat satu kamar dengan satu tempat tidur ukuran besar.

Terpaksa, malam itu kami tidur bertiga di tempat tidur itu.

Pengalaman lebih jauh yang saya alami dengan ibu mertua saya tersebut terjadi ketika saya dan isteri saya menemani beliau ke Semarang untuk menghadiri pernikahan salah satu keluarga dekat dari almarhum bapak mertua saya.